• Jelajahi

    Copyright © GAJAH POS SITE
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    21 Hari Menuju Gelap: Alarm Keras Bahlil dan Bayang-Bayang 'State Capture' di Tangki Minyak Kita

    GAJAH SITE
    Rabu, 04 Maret 2026, Maret 04, 2026 WIB Last Updated 2026-03-05T05:55:05Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    21 Hari Menuju Gelap: Alarm Keras Bahlil dan Bayang-Bayang 'State Capture' di Tangki Minyak Kita



    ​JAKARTA – Bayangkan sebuah skenario perang tanpa desing peluru atau ledakan rudal. Sebuah negeri kepulauan yang luas tiba-tiba lumpuh total; mesin pabrik mati, kendaraan membeku di jalan raya, dan nadi ekonomi berhenti berdenyut. Bukan karena invasi militer, melainkan karena keran impor minyak yang ditutup rapat hanya selama tiga minggu.

    ​Skenario horor ini bukanlah isapan jempol, melainkan peringatan keras yang dilontarkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Dalam sebuah pernyataan yang kini viral, Bahlil menelanjangi rapuhnya pertahanan energi Indonesia yang hanya mampu bertahan selama 21 hari.

    ​Angka yang Mencemaskan: 21 Hari

    ​"Hari ini, kalau perang itu ada di Indonesia, enggak perlu rudal masuk. Cukup mereka menahan impor minyak 21 hari, maka kita selesai," ujar Bahlil dengan nada serius.

    ​Angka 21 hari ini merujuk pada kapasitas storage atau cadangan energi nasional. Jika rantai pasok global terputus—baik karena konflik geopolitik maupun embargo—Indonesia hanya memiliki napas selama tiga minggu sebelum cadangan minyak benar-benar kering. Durasi ini jauh di bawah standar keamanan energi internasional yang idealnya berada di angka 90 hari.

    ​Fenomena 'State Capture': Kebijakan yang Disandera

    ​Namun, mengapa membangun tangki cadangan tambahan begitu sulit? Bahlil secara terang-terangan menyebut adanya resistensi dari kelompok yang ia istilahkan sebagai 'Deep State'. Dalam kajian politik ekonomi, fenomena ini sering disebut sebagai State Capture (Penawanan Negara).

    ​State Capture adalah kondisi di mana kelompok kepentingan tertentu (seperti para importir besar) berhasil memengaruhi proses pengambilan keputusan negara demi keuntungan pribadi mereka. Mereka tidak lagi sekadar menyuap pejabat, tetapi "menawan" kebijakan itu sendiri agar tetap bergantung pada impor. Dengan membiarkan kapasitas cadangan nasional tetap rendah, posisi tawar para importir ini tetap kuat, dan ketergantungan negara menjadi sumber keuntungan yang abadi.

    ​Setiap upaya pemerintah untuk membangun infrastruktur penyimpanan mandiri atau meningkatkan ketahanan energi domestik akan selalu dijegal. Caranya beragam, mulai dari lobi di belakang layar hingga gempuran kampanye hitam di media sosial untuk menggiring opini publik.

    ​Melawan 'Kenyamanan' Para Importir

    ​"Para importir pasti keluar lagi di sosmed, di meme-meme lagi ini barang. Karena orang sudah nyaman... Deep state inilah kelompok yang sudah nyaman terhadap kondisi yang ada," tegas Bahlil.

    ​Bagi Bahlil, serangan di media sosial hanyalah bumbu dalam perjuangan mencapai survival bangsa. Istilah "Epen Kah" (emangnya penting?) ia gunakan untuk menunjukkan keteguhannya menghadapi kritik yang dianggapnya pesanan dari kelompok yang ingin mempertahankan status quo.

    ​Fokus utama kini adalah bagaimana memutus rantai State Capture tersebut dengan memperpanjang napas Indonesia melalui pembangunan storage yang lebih masif. Pertarungannya bukan lagi di medan tempur fisik, melainkan di keberanian mengambil kebijakan yang lepas dari sandera kepentingan para pemburu rente.

    ​Kini, pertanyaannya tinggal satu: Sanggupkah negara merebut kembali kedaulatannya dari cengkeraman "penawan kebijakan" sebelum jam pasir 21 hari itu benar-benar habis?
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini